Renungan Senin: Mengapa 2026 Adalah Tahun untuk ‘Pulang’ ke Diri Sendiri

Renungan Senin: Mengapa 2026 Adalah Tahun untuk ‘Pulang’ ke Diri Sendiri
(Senin, 17 Maret 2026 – Menjelang Akhir Ramadhan)
“Dalam pencarian jati diri, kamu tidak menemukan sesuatu yang baru. Kamu hanya mengingat kembali siapa dirimu sebenarnya—fitrah yang suci, yang selama ini tertutup debu kehidupan.”
Pernahkah kamu merasa, di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota besar yang tak pernah benar-benar diam, scrolling feed penuh cerita puasa, target ibadah, dan antisipasi Lebaran—tiba-tiba dada terasa penuh? Bukan sesak karena lapar haus semata, tapi seperti ada suara kecil di dalam yang berbisik, “Sudah dekat ya… pulangnya.”
Hari ini, Senin 17 Maret 2026, kita berada di penghujung Ramadhan 1447 H. Menurut penetapan pemerintah dan NU, ini sekitar hari ke-27 atau 28 puasa; bagi Muhammadiyah mungkin sudah lebih maju. Yang pasti, kita memasuki 10 hari terakhir—masa di mana malam-malam terasa lebih panjang dalam doa, hati lebih rawan terbuka, dan jiwa seperti dipaksa untuk benar-benar melihat ke dalam. Banyak yang bilang 2026 adalah tahun “awakening” kolektif, tahun reset setelah badai 2025. Tapi bagi saya, awakening itu bukan soal naik level baru di luar. Ia tentang pulang. Pulang ke rumah yang paling asli: diri sendiri, fitrah yang Allah titipkan sejak lahir.
Kenapa justru di akhir Ramadhan ini, dan di 2026, pulang terasa begitu mendesak?
Pertama, puasa telah mengupas lapis demi lapis “versi performatif” kita. Di kota besar, kita terbiasa tampil kuat: sukses, bahagia, produktif, bahkan “paling soleh” di feed. Tapi Ramadhan memaksa kita lapar, haus, lelah—dan di situlah topeng jatuh. Kita sadar: performa itu tak bisa lagi menutupi luka batin yang belum sembuh. Akhir Ramadhan seperti puncak proses itu—waktu untuk berhenti lari dan mulai pulang.
Kedua, ada gelombang “kembali ke akar” yang semakin kuat tahun ini. Banyak orang bosan dengan spiritualitas religi instan: meditasi app, afirmasi copy-paste, atau konten motivasi singkat. Di penghujung Ramadhan, kita kembali ke yang sederhana: tarawih yang khusyuk, tadarus yang pelan, doa di sepertiga malam, atau sekadar diam merenung tanpa gadget. Itu semua bentuk pulang—ke akar budaya, agama autentik, dan kesadaran diri yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Ketiga, blueprint diri kita sedang di-update lewat puasa ini. Blueprint bukan statis; ia dinamis, bertambah lapisan dari setiap pengalaman, luka, dan momen diam. Di 2026, setelah tahun-tahun penuh perubahan, peta pulang terasa paling jelas: “Ini loh jalannya.” Akhir Ramadhan adalah momen reboot jiwa—seperti software yang crash berkali-kali, akhirnya kembali ke versi paling murni.
Saya sendiri merasakan panggilan ini kuat sekali belakangan. Website ini sempat tertidur lama, tapi Ramadhan tahun ini seperti mengingatkan: perjalanan pulang tak pernah benar-benar berhenti. Semua pertemuan, kegagalan, dan momen diam di luar sana justru memperkaya peta itu. Tidak ada yang lebih penting daripada kembali ke diri yang utuh, yang tak perlu bukti dari siapa pun—seperti fitrah yang kita rayakan di Idul Fitri nanti.
Jadi, di Senin ini, menjelang akhir Ramadhan, izinkan saya ajak kamu langkah kecil pulang:
Di sisa hari puasa ini, matikan notifikasi 10 menit setelah berbuka atau sahur. Duduk diam, tarik napas dalam, tanya: “Apa yang sebenarnya saya rindukan dari fitrah saya?”
Tulis satu kalimat jujur di jurnal: “Saya lelah jadi… dan di akhir Ramadhan ini, saya ingin kembali jadi…”
Ingat satu momen kecil di masa lalu (atau bahkan di puasa tahun ini) di mana kamu merasa “ini saya banget, dekat dengan Tuhan”—apa yang membuatnya nyata? Bawa elemen itu ke hari-hari terakhir ini.
Pulang ke diri sendiri bukan perjalanan jauh. Ia adalah keputusan harian—terutama di akhir Ramadhan—untuk berhenti pura-pura dan mulai mengingat fitrah. 2026 bukan tahun untuk jadi versi “lebih baik” dari orang lain. Ini tahun reset, rebirth, new cycle, dan pulang ke yang paling jujur dari diri kita.
Dan saya di sini, siap menemani langkah pulangmu. Satu renungan demi satu, satu doa demi satu, sampai kita bertemu lagi di pelukan Idul Fitri.
Kamu siap pulang?
