Oh Yes … oh nooo

Oh, Yes, oh No, Diam, Hidup.
Kitab Genit Seribu Gaya
oleh Widhi Wedhaswara

Pada akhirnya saya udah nggak pengen jadi siapa-siapa. Sudah nggak pengen kelihatan bijak, nggak pengen jadi penyembuh full-time, nggak pengen kelihatan ngerti semua tentang blueprint. Kadang ngerti, kadang… ya bodo amat.

 

Malam-malam bisa ikut nari tarawangsa, masuk ke vibrasi yang katanya 5D, sambil badan kesurupan lembut. Tapi besoknya? Baru keinget, “Anjir… klien belum direading.” Terus scroll TikTok, eh malah nonton VT cewek joget sambil makan kue pancong.

 

Kadang nonton bokep — bukan karena lupa Tuhan, tapi karena badan minta istirahat dengan caranya sendiri. Kadang dzikir, Hu Allah… bukan karena ingin terlihat suci, tapi karena ada getar yang minta diingatkan ke asalnya.

 

Kadang beli kaos Ultraman, besoknya pakai iket Sunda sambil nyapu halaman. Hari ini bisa ngomongin blueprint, politik, ekonomi spiritual, lalu besok cuma bengong sambil ngasih makan ayam dan mikir, “Ayam juga nggak ribet begini ya hidupnya.”

 

Kadang si kucing tetangga nyolong ikan. Saya bengong: mau diusir takut jahat, mau dikasih takut manja. Akhirnya saya tatap dia. Dia tatap balik. Kami sama-sama bingung tapi penuh cinta.

 

Kadang saya iseng ke orang, terus orang itu baper. Saya diam. Lalu dalam hati, “Kok bisa ya saya segini ngacau tapi tetap sadar.” Kadang ingat mantan dan semua versi diri yang pernah saya jadiin alat buat dapat cinta. Sekarang? Doakan saja. “Ya Allah, jaga dia. Dan sembuhkan saya, kalau masih ada yang luka.”

 

Saya Life Path 4. Sun di Taurus. Arcana 8. Katanya sih, harus rapi, stabil, sistematis. Tapi sekarang? Saya lebih suka hidup kayak air — ngalir, kadang kotor, kadang jernih, tapi selalu bergerak.

 

Nggak semua harus konten.

Nggak semua harus makna.

Nggak semua harus dijawab pakai kartu.

Nggak semua harus masuk FYP.

 

Kadang cukup diam. Kadang cukup tertawa. Kadang cukup beli gorengan. Kadang cukup mikir, “Ya udahlah, hidup.” Kadang semua itu bercampur, jadi satu tarikan napas panjang, lalu:

 

Oh.

Yes.

Oh no.

Oh God.

Diam.

Hening.

Orgasme.

 

Lalu napas.

Lalu sadar.

Lalu hidup.

 

Saya nggak pengen menjelaskan siapa saya sekarang. Saya juga nggak pengen membenarkan cara hidup saya yang campur aduk kayak warteg. Karena saya tahu:

Yang penting bukan sempurna. Yang penting… hadir.

Dan semesta pun tahu:

 

Widhi sudah pulang.

Terima kasih untuk sebuah perjalanan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

```javascript function formatDate(value){ if(!value) return "-"; try{ if(value.seconds){ return new Date( value.seconds * 1000 ).toLocaleDateString("id-ID"); } if(typeof value.toDate === "function"){ return value .toDate() .toLocaleDateString("id-ID"); } return "-"; }catch(err){ return "-"; } } function renderTable(users){ const tbody = document.querySelector( "#usersTable tbody" ); tbody.innerHTML=""; users.forEach(user=>{ const createdDate = formatDate(user.createdAt); const updatedDate = formatDate(user.updatedAt); const tr = document.createElement("tr"); tr.innerHTML = ` ${user.fullName || "-"} ${user.email || "-"} ${createdDate} `; tr.addEventListener("click",()=>{ document.getElementById( "modalBody" ).innerHTML = `

${user.fullName || "-"}

Email
${user.email || "-"}

Tanggal Daftar
${createdDate}

Terakhir Update
${updatedDate}

`; document.getElementById( "userModal" ).style.display="block"; }); tbody.appendChild(tr); }); } ```