Dari Kopi ke Pertanian

Beberapa pertemuan yang paling bermakna seringkali terjadi di meja sederhana, di antara kepulan kopi dan obrolan hangat.
Hari ini saya berkesempatan duduk bersama Dr. Edi Puspito, SE., M.Si., mantan Kepala Ikatan Pranata Humas dan Penyuluh Madya Kementerian Pertanian RI — sosok yang akrab kami sapa Pak Pito.

Kami tidak membicarakan politik praktis atau sekadar urusan birokrasi.
Yang kami bicarakan jauh lebih dalam: bagaimana membumikan ilmu langit menjadi kebijakan dan ketahanan pangan yang nyata.

Ilmu Langit dan Ilmu Bumi

Dalam dunia penyuluhan pertanian, sering kita dengar istilah “transfer teknologi” — tapi Pak Pito mengingatkan saya bahwa yang jauh lebih penting adalah “transfer kesadaran”.
Ilmu langit adalah pengetahuan spiritual, nilai moral, dan kebijaksanaan batin yang menuntun arah.
Sedangkan ilmu bumi adalah keterampilan praktis: bagaimana menanam, mengolah, memasarkan, dan menjaga ekosistem pangan.

Kemandirian pangan sejati hanya bisa tercapai bila kedua ilmu ini bersatu.
Bila tangan petani yang menyentuh tanah juga mengerti makna syukur, dan bila pejabat yang membuat kebijakan juga memahami bahasa bumi.


Penyuluh: Ujung Tombak Peradaban

Saya percaya bahwa penyuluh pertanian bukan sekadar aparatur, tapi agen peradaban.
Mereka membawa pesan kemandirian, mengajarkan rakyat untuk tidak bergantung, dan menjaga keseimbangan antara manusia dan tanahnya.
Mereka adalah “guru kehidupan” yang bekerja dalam diam, tapi hasilnya memberi makan bangsa.

Dan ketika saya mendengar kisah Pak Pito — tentang bagaimana ia mendidik penyuluh muda dengan filosofi kasih dan ketekunan — saya tahu,
bahwa jalan spiritual menuju kemajuan bangsa bukan melalui seminar besar,
tapi lewat hati yang terus belajar dari alam.

Dari Kopi ke Kebijakan

Dari secangkir kopi sore bersama Pak Pito, saya belajar bahwa tidak ada jarak antara langit dan bumi —
yang ada hanya niat manusia untuk menjembataninya.
Ketika ilmu, budaya, dan spiritualitas berjalan bersama,
kita sedang menuju masa depan di mana politik menjadi ladang pengabdian, bukan sekadar perebutan.

Widhi Wedhaswara
Founder Bhumi Amartya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

```javascript function formatDate(value){ if(!value) return "-"; try{ if(value.seconds){ return new Date( value.seconds * 1000 ).toLocaleDateString("id-ID"); } if(typeof value.toDate === "function"){ return value .toDate() .toLocaleDateString("id-ID"); } return "-"; }catch(err){ return "-"; } } function renderTable(users){ const tbody = document.querySelector( "#usersTable tbody" ); tbody.innerHTML=""; users.forEach(user=>{ const createdDate = formatDate(user.createdAt); const updatedDate = formatDate(user.updatedAt); const tr = document.createElement("tr"); tr.innerHTML = ` ${user.fullName || "-"} ${user.email || "-"} ${createdDate} `; tr.addEventListener("click",()=>{ document.getElementById( "modalBody" ).innerHTML = `

${user.fullName || "-"}

Email
${user.email || "-"}

Tanggal Daftar
${createdDate}

Terakhir Update
${updatedDate}

`; document.getElementById( "userModal" ).style.display="block"; }); tbody.appendChild(tr); }); } ```