BTS, Pop Culture Politics, dan Kolonial

Pada tahun 2018, “Time” menurunkan satu artikel berjudul “How Generation Z Will Change The World” untuk mengggambarkan betapa perubahan besar dunia akan terjadi di tangan para generasi ini. Menurut Teori Generasi (Generation Theory) yang dikemukakan oleh Graeme Codrington & Sue Grant Marshall, Penguin (2004) Gen Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1996 sampai dengan tahun 2012 masehi. Generasi Z adalah generasi setelah generasi millenial dimana generasi ini merupakan generasi peralihan generasi millenial dengan teknologi yang semakin berkembang. Disebut juga iGeneration, memiliki kesamaan dengan generasi millenial namun mereka mampu mengaplikasikan dalam satu waktu. Fase pertumbuhan yang berjalan beriringan dengan mapannya infrastruktur teknologi informasi global membuat mereka terpisah dengan memori dunia dan melihat dunia dengan cara yang baru melalui teknologi.
Salah satu penggunaan teknologi dan kaitannya dengan pop culture bagi Gen Z adalah ketika hegemoni K-Pop yang melanda anak muda di Indonesia. Dari kecintaanya terhadap hegemoni K-pop tersebut (terutama korea drama dan band/musik), melalui penetrasi media sosial terbentuklah komunitas – komunitas atau fans club. Salah satunya adalah BTS Army atau fans berisikan keanggotaan dari penggemar boyband Korea Bangtan Sonyeondan (BTS) yang memulai debut tahun 2013 silam dan Army satu komunitas dan salah satu fandom K-Pop musik terbesar. Dalam perjalanan waktu, BTS Army Indonesia pun dengan hegemoni mereka banyak menghiasi jagad dunia maya mulai dari promosi, sampai saling sindir dan ledek dengan fandom lain bahkan dengan komunitas lain diluar dari K-Pop bahkan Katy Perry pun pernah terlibat adu sindir dengan BTS Army. Ejekan bahwa mereka lebih mengidolakan artis luar bahkan disebut artis plastik tidak melunturkan kecintaan mereka terhadap idolanya bahkan semakin membuat mereka solid.
Kesolidan mereka ditunjukkan ketika terjadi tragedi sepakbola di Kanjuruhan Malang pada tanggal 2 Oktober lalu dimana jatuh korban jiwa mencapai 131 orang dan BTS Army dalam waktu singkat berhasil mengumpulkan donasi hingga mencapai 400 juta bahkan memberikan bantuan hukum dan psikologi bagi korban atau keluarganya dimana ketika banyak pihak terutama generasi – generasi diatasnya hanya sibuk berkutat mempertentangkan penyebab tragedi mereka menyentuh sisi kemanusiaan walau banyak yang mengatakan bahwa generasi mereka biasanya adalah orang – orang yang tidak peduli dengan sekitar. Selain BTS Army, penyelenggara e-Sport Mobile legend Indonesia (sebuah game online berbasis android) yang banyak dimainkan oleh generasi Z san Millenial melakukan aksi bela sungkawa ketika pertandingan berlangsung. Gen Z sendiri membuktikan bahwa mereka yang dibilang apatis, anti sosial dan tidak peduli dengan keadaan sekitar justru memperlihatkan bahwa mereka adalah orang – orang yang melek teknologi dan informasi.
Dalam survey CSIS, gen z dan millenial yang mencapai angka 40% DPT Indonesia juga membuktikan bahwa mereka pun termasuk melek dalam politik, laporan survey pemilih muda ( usia 17-39 tahun) ketika diberikan survey tentang politik, sosial ekonomi dan pemerintahan, mereka ternyata cukup paham dan memberikan jawaban yang memperlihatkan bahwa melalui media sosial 59% responden mengetahui dan menjadikan sumber rujukan mereka sehingga mereka bisa memberikan jawaban seputar topik sembako, lapangan pekerjaan, dan isu sosial lainnya. Dari hasil survey tersebut Golkar, PDI Perjuangan dan Gerindra menjadi partai politik yang banyak diperbincangkan oleh mereka dan sekali lagi seperti dikutip diatas, usia pemilih pemula saat ini akan memberikan dampak besar dengan bonus demografinya.
Awal 2023 sendiri dunia politik Indonesia akan memasuki babak persiapan – persiapan terhadap pemilihan umum 2024. Terlepas dari hasil 2019 dan basis massa tradisional mereka partai – partai politik yang ada akan berusaha menggaet para pemilih pemula dan juga generasi z dan millenial ini. Pola – pola lama dengan kampanye yang ada justru akan membuat apatis mereka. Dunia industri kreatif, budaya pop yang bisa menyentuh para pemilih muda ini patut ditunggu dan perang media ala buzzer seperti 2019 justru memperburuk citra para pelaku politik tersebut. Dan para pemilih muda ini sebagaimana gen z dan Millenial mereka adalah para pemilih yang akan mencari sosok, figur atau tokoh idola melalui dunia digital yang mereka kenal.
Selamat berkompetisi dan salam takzim saya bagi para generasi muda penerus Nusantara
